|
|
Forum komunikasi alumni SPMA Bogor
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
| Topik sebelumnya :: Topik selanjutnya |
| Pengirim |
Message |
Orang-orang Tercinta Anggota "Dewi Sri"

Sejak: 15 Jan 2010 Post: 46
|
Dikirim: Kam Jul 29, 2010 6:31 pm Judul: 30. Orang-orang Tercinta |
|
|
(30)
“Bas….”
“Ya?”
“Kamu mulai tidak percaya pada Tias?”
“Maksudmu?”
Esih menoleh ke ujung lorong. “Yang kamu tulis di buku merah itu apa? Kamu tidak percaya Tias ke Ciampea. Kamu mengira Tias bohong. Kamu menyangka Tias tidak ke sana, tapi ke rumah Netti.”
“Ah, itu kan perasaanku saja.”
“Atau memang begitu kenyataannya?”
“Hei, jangan berpikir yang tidak-tidak.”
“Kamu juga mulai jengkel sama Tias, kan? Karena sampai saat ini belum pernah berduaan. Tias selalu punya acara sendiri. Selalu meralat janji. Selalu memilih pergi ke tempat lain.”
“Bukankah begitu kenyataannya?”
“Tapi kamu juga begitu. Lebih tertarik mengurus dies natalis atau Dewi Sri atau majalah dinding. Lebih memperhatikan mesin tik dan tetek bengek kertas-kertas!”
Bastomo berdiri. Berjalan ke arah depan.
Berhenti dekat tiang beton.
Hujan yang sejak tadi turun belum juga berhenti. Airnya membasahi Lapangan Ombrometer, mengalir ke selokan di sekeliling sekolah.
Mereka berada di koridor utama. Di pertemuan lorong yang menuju perpustakaan, laboratorium, dan ruang guru. Persis di tengah-tengahnya, sehingga dari situ dapat melihat ke segala arah. Ke segala penjuru. Ke segala sudut.
Tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua.
Dan hujan memaksa mereka bertahan. Satu jam lebih. Tadi hanya bertemu di belakang perpustakaan – seperti biasanya – kemudian pindah ke tempat yang sekarang, karena hujan mengguyur tepian dinding. Tempiasnya menciprat ke mana-mana.
“Sih, kamu tahu jabatanku di sekolah ini?”
“Tahu. Tias tahu kamu sibuk. Jadi sekretaris. Jadi panitia. Jadi redaksi majalah dinding. Tias tahu waktumu terbatas. Tapi, masak kamu tidak mempercayai Tias. Padahal selama ini Tias mempercayai kamu. Mempercayai kesibukan-kesibukan kamu.”
“Oke. Oke. Aku minta maaf kalau perasaanku itu membuatmu marah. Kita lupakan saja, ya?”
“Tias tidak marah!”
“Ya sudah. Berarti tidak ada masalah lagi,” Bastomo membimbingnya duduk. “Bukankah seharusnya kita memanfaatkan kesempatan ini untuk apa itu... untuk pacaran. Maksudku begini, kita kan kalau malam minggu tidak pernah apel. Belum pernah berhasil apel. Kesempatan bertemu cuma siang sehabis sekolah. Seperti sekarang ini. Kebetulan hujan lagi. Kita cuma berdua.”
“Kamu kan sibuk.”
“Memang. Tapi apa aku harus lari ke sekretariat? Hujan-hujan begini?”
“Lari saja. Kamu kan lebih mementingkan tugas.”
“Kok jadi sinis begitu?”
Koridor, lorong memanjang dengan tiang-tiang kokoh dan bangku teraso di sela-selanya. Tempat yang juga disukai untuk duduk-duduk mengisi jam istirahat selain Taman Bougenville
“Habis....”
“Habis apa?”
Esih membuang pandangannya ke arah lain.
Bastomo mendesah panjang.
“Yeah, ini memang salahku. Terlalu menyibukkan diri. Padahal dari situ aku tidak mendapat apa-apa. Cuma capek. Cuma dikejar-kejar waktu, dimarahi pacar lagi. Tapi aku menemukan arti hidupku di situ. Menemukan arti tanggung jawab sepenuhnya. Dan pengalaman.”
“Apakah itu membuatmu kenyang?”
“Tidak. Malah sering membuatku lapar karena terlambat makan. Tapi tidak apa-apa. Aku menyukainya kok. Dan sampai kapan pun aku akan membuktikan kemampuanku. Pokoknya tugas nomor satu. Pacar....”
“Nomor dua?” serobot Esih.
“Nomor dua puluh tujuh!”
Esih memukul paha Bastomo. Keras sekali.
Tapi Bastomo tak merasa sakit. Aneh.
“Eh, Jack betul naksir Pritha?”
“Katanya iya.”
“Hebat juga. Belum sebulan dia frustasi – kalau memang kenal frustasi – sudah punya gantinya.”
“Tias bersyukur tidak jadi sama dia. Coba, bukankah ini merupakan bukti bahwa sebetulnya Jack tidak serius sama Tias? Kalau dulu betul-betul cinta, masak belum sebulan sudah melupakan cintanya begitu saja.”
“Katanya dulu Pritha pacaran sama Purwa?”
“Belum pacaran. Masih pendekatan.”
“Terus?”
“Tidak jadi.”
“Kenapa?”
“Mana Tias tahu? Itu urusan dia.”
“Tapi kalian kan satu kelompok?”
“Memang. Tapi tidak sedekat dengan Netti, misalnya. Kalau kamu menanyakan pada Netti, mungkin bisa dijawab. Mereka kan satu kamar di Asrama Putri. Biasanya di kamar banyak hal-hal yang bisa ditanyakan. Seperti juga Tias dan Mona. Satu kamar. Jadi masing-masing tahu.”
“Mona sudah tahu tentang kita?”
“Sudah.”
“Apa katanya?”
“Titip Bastomo ya, Tias. Jangan diapa-apain.”
Bastomo tertawa.
Pikirannya masih melayang pada Pritha. Soalnya, ini diakui Bastomo sendiri, di antara Kelompok Empat yang lain, Pritha memiliki wajah yang paling memenuhi syarat. Maksudnya, Pritha cantik dan punya daya tarik. Wajahnya mengingatkan pada sampul majalah remaja, pada fotomodel yang mempromosikan baju. Rambutnya berombak sampai bahu, mata lentik – alisnya, dan kecantikan yang alami. Tanpa dandan pun sudah menarik.
“Fotogenik,” komentar Bastomo pada Setyo.
“Fotogenik?”
“Ya. Artinya difoto dari arah mana pun hasilnya pasti bagus.”
“O, begitu.”
“Apa pendapatmu, Set?”
“Seperti Shierly Malinton.”
Seperti Shierly Malinton?
Atau Shierly Malinton yang seperti Pritha?
Wah, jangan-jangan Bastomo naksir Pritha! _________________ first love never end.. |
|
| Kembali Ke Atas |
|
 |
|
|
Anda tidak dapat mengirim topik Anda tidak dapat menjawab topik Anda tidak dapat mengubah pesan Anda Anda tidak dapat menghapus pesan Anda Anda tidak dapat mengikuti polling
|
Új lap - 1
.:.
Provided by PT. Delta Sarana Prima
|